Definisi dan Informasi Umum
Gangguan obsesif kompulsif merupakan pikiran dan tindakan berulang yang menghabiskan waktu seseorang serta mengakibatkan distress dan hendaya bermakna. Gangguan obsesif kompulsif terjadi umumnya pada remaja atau dewasa berusia 18-24 tahun tanpa ada perbedaan pada jenis kelamin.
Sesuai namanya, gangguan ini memiliki dua komponen yang berbeda arti yaitu obsesi dan kompulsi. Obsesi artinya aktivitas mental yang berulang dan intrusif seperti pikiran, perasaan, ide, dan impuls. Sementara itu, kompulsi artinya pola perilaku berulang dan disadari seperti memeriksa, menghitung, atau menghindar. Kompulsi berperan sebagai pereda kecemasan atas obsesi yang dimiliki orang tersebut. Obsesi dan kompulsi pada pasien dengan gangguan ini tidak bisa dikontrol, memakan waktu hingga lebih dari satu jam perhari, tidak menyenangkan, dan sangat mengganggu hidup pasien.
Etiologi
Mekanisme penyebab penyakit ini masih belum diketahui secara pasti. Terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan gangguan obsesif kompulsif seperti faktor biologis, genetik, atau psikososial. Stres bukan penyebab penyakit ini tetapi dapat memperburuk gejala.
Tanda dan Gejala
Seseorang dengan gangguan obsesif kompulsif memiliki ide atau impuls yang terus menerus menekan kesadarannya dan merasakan cemas atas ide atau impuls yang aneh. Pasien dengan gangguan ini menyadari bahwa hal yang dialaminya merupakan sesuatu yang tidak rasional dan berkeinginan besar untuk melawannya.
Terdapat empat pola gangguan obsesif kompulsif yakni:
- Kontaminasi.
Seseorang dengan pola ini terobsesi tentang kontaminasi dan ditandai dengan perilaku mencuci, menghindari, atau membersihkan hal-hal yang dirasa terkontaminasi. - Sikap ragu yang patologis.
Seseorang dengan pola ini terobsesi dengan keraguan sehingga terjadi perilaku kompulsif berupa memeriksa sesuatu berulang. Umumnya keraguannya tentang hal-hal yang yang bisa menimbulkan bahaya seperti tidak mematikan kompor atau mengunci pintu rumah. - Pikiran intrusif
Seseorang dengan pola ini terobsesi dengan berbagai hal tetapi umumnya tidak diikuti perilaku kompulsif. Umumnya, pikiran tersebut seputar hal seksual, berbahaya, agresif, atau mengganggu. Perilaku kompulsif dapat muncul seperti berdoa atau meminta kepastian akan sesuatu yang dipikirkannya. - Simetri
Seseorang dengan pola ini terobsesi dengan kebutuhan atas segala sesuatu tertata simetris, sesuai urutan, dan tepat. Hal ini menimbulkan perilaku kompulsif berupa bekerja dengan lamban untuk memastikan sesuatu sesuai dengan obsesinya.
Diagnosis
Dokter, khususnya dokter spesialis kesehatan jiwa, akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh sesuai dengan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5). Diagnosis hanya dapat ditegakkan oleh tenaga ahli sehingga tidak baik untuk mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan gejala saja. Jika mengeluhkan gejala-gejala di atas, segera lakukan konsultasi dengan dokter.
Tata Laksana
Terdapat beberapa pengobatan untuk pasien gangguan obsesif kompulsif seperti obat-obatan dan psikoterapi. Obat yang dapat diberikan sesuai indikasi dokter adalah clomipramine dan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI).
Psikoterapi terdiri dari psikoterapi suportif, terapi perilaku, terapi kognitif perilaku, dan psikoterapi dinamik. Sebagai contoh, terapi kognitif perilaku mampu membantu pola pikir pasien dengan harapan pasien dapat belajar mengurangi atau menghilangkan obsesi dan kompulsinya.
Tata laksana pasien gangguan obsesif kompulsif sangat bergantung pada kondisi pasien. Namun, studi menunjukkan bahwa kombinasi obat dan terapi perilaku efektif menurunkan gejala penyakit ini. Edukasi dan intervensi keluarga juga merupakan salah satu komponen penting dalam tata laksana penyakit ini.
Komplikasi dan Prognosis
Terdapat 20-30% pasien gangguan obsesif kompulsif memiliki perbaikan gejala yang signifikan, 40-50% mengalami perbaikan gejala sedang, dan 20-40% lainnya tidak membaik atau semakin memburuk. Namun, terdapat pula studi yang menyatakan bahwa hampir 70% pasien mengalami perbaikan gejala signifikan. Melalui pengobatan yang adekuat, baik farmakoterapi maupun terapi perilaku, pasien dapat memiliki periode tanpa timbulnya gejala.
Prognosis baik pada penyakit ini ditemukan pada pasien dengan penyesuaian yang masih baik, ada pencetus timbulnya gejala yang diketahui, dan gejala bersifat episodik. Pasien dengan kompulsi yang terus diikuti, kompulsi bersifat aneh, sudah terjadi sejak kecil, memiliki penyakit gangguan jiwa lain, dan memerlukan perawatan rumah sakit umumnya memiliki prognosis yang buruk.
Referensi
- Noorhana SW. Gangguan obsesif kompulsif. In: Elvira SD, Hadisukanto G. Buku ajar psikiatri. 2nd ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2015. P.273-6.
- Greenberg WM. Obsessive-compulsive disorder [internet]. Medscape. Available form: https://emedicine.medscape.com/article/1934139-overview


