Definisi dan Informasi Umum
Distimia atau yang biasa dikenal dengan istilah depresi persisten merupakan bentuk depresi kronis jangka panjang. Pada distimia, gejala depresi yang dirasakan pasien dapat bertahan dalam periode dua tahun atau lebih. Pasien dengan distimia umumnya menunjukkan gejala depresi yang lebih ringan dibandingkan dengan pasien depresi mayor. Meskipun demikian, pasien dengan distimia dapat mengalami periode depresi mayor yang biasa disebut dengan istilah double depression.
Etiologi
Penyebab terjadinya distimia masih belum diketahui secara pasti. Sampai saat ini, diduga terdapat keterlibatan faktor genetik dan gangguan pada otak. Selain itu, adanya stresor kehidupan yang cukup banyak, penyakit kronik, dan permasalahan dalam kehidupan sosial diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami distimia pada orang yang secara genetik memiliki risiko depresi.
Tanda dan Gejala
Gejala distimia umumnya serupa dengan gejala depresi mayor. Akan tetapi, gejala tersebut umumnya dirasakan lebih jarang dan jumlahnya lebih sedikit. Beberapa gejala distimia yaitu:
- Merasa sedih sepanjang hari atau hampir setiap hari
- Hilangnya keinginan untuk melakukan hal-hal yang disenangi
- Perubahan berat badan
- Kesulitan tidur atau banyak tidur
- Sering merasa lelah tanpa penyebab yang jelas
- Merasa bersalah yang berlebihan, tidak berguna, dan tidak memiliki harapan
- Kesulitan berkonsentrasi dan mengambil keputusan hampir setiap hari
- Sering muncul pikiran untuk mengakhiri hidup
Diagnosis
Penegakan diagnosis distimia harus dilakukan oleh dokter. Hindari mendiagnosis diri sendiri dengan cara mencocokkan gejala distimia. Tidak semua orang dengan gejala distimia benar-benar mengalami distimia. Apabila Anda merasa memiliki gejala tersebut, segera temui dokter untuk berkonsultasi.
Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh yang umumnya didahului dengan menanyakan gejala yang dirasakan serta riwayat kondisi medis yang ada. Dokter akan menanyakan beberapa hal terkait gejala yang Anda alami. Agar penegakan diagnosis dapat berjalan lancar, ada baiknya Anda menjawab pertanyaan yang diajukan dokter sesuai dengan apa yang Anda rasakan.
Tata Laksana
Penegakan diagnosis segera dan pemberian tata laksana secepatnya dapat sangat membantu proses penanganan distimia. Dokter dapat memberikan psikoterapi, obat seperti antidepresan, atau kombinasi keduanya. Pemberian obat ataupun psikoterapi didasarkan pada kondisi pasien.
Psikoterapi yang dapat diberikan berupa konseling, terapi kognitif, ataupun problem solving therapy. Berbagai jenis psikoterapi tersebut umumnya digunakan untuk mengatasi masalah yang menimbulkan gejala depresi.
Penggunaan obat seperti antidepresan harus dilakukan sesuai dengan anjuran dokter. Penggunasalahan antidepresan dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Segera konsultasikan dengan dokter apabila Anda menerima terapi antidepresan dan merasakan terdapat efek samping.
Komplikasi dan Prognosis
Distimia sangat jarang berkembang menjadi depresi mayor. Meskipun demikian, pasien dengan distimia masih mungkin mengalami episode depresi mayor. Akan tetapi, hanya sebagian kecil pasien distimia yang pernah mengalami episode depresi mayor atau yang biasa disebut dengan istilah double depression.
Meskipun distimia adalah salah satu masalah kesehatan mental yang cukup serius, distimia masih bisa ditangani. Keberhasilan penanganan distimia salah satunya bergantung pada kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Penegakan diagnosis segera juga dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan penanganan distimia. Oleh karena itu, apabila Anda merasa mengalami gejala distimia, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat.
Referensi:
- Casarella J. Dysthymia (mild, chronic depression) [internet]. WebMD [cited 2020 Des 1]. Available from : https://www.webmd.com/depression/guide/chronic-depression-dysthymia#1
- Elvira SD, Hadisukanto G. Buku ajar psikiatri. 3rd ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2017. p. 275-7.


